Neisseria gonorrhoeae pada Kasus Ginekologi: Tinjauan Sistematis dari Sudut Pandang Mikrobiologi Klinik dan Obstetri-Ginekologi

  • Adriel Chandra Angarmona Departemen Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
  • Fera Ibrahim Departemen Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
  • Dwiana Ocviyanti Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Kata Kunci: Neisseria gonorrhoeae, Gonore, Servisitis mukopurulen, Pelvic inflammatory disease, Abses tubo-ovarium, Infertilitas, IVF, IUD, NAAT, Resistensi antimikroba

Abstrak

Tinjauan sistematis ini merangkum bukti mengenai Neisseria gonorrhoeae pada kasus ginekologi dari perspektif mikrobiologi klinik dan obstetri-ginekologi, meliputi servisitis mukopurulen, pelvic inflammatory disease (PID), abses tubo-ovarium, infertilitas, relevansi IVF, penggunaan IUD, diagnosis, terapi presumtif, dan resistensi antimikroba. Pencarian literatur mengikuti PRISMA 2020 pada PubMed, Embase, dan Cochrane Library untuk publikasi 2020–2025. Dari 1.247 rekaman, tujuh publikasi memenuhi kriteria inklusi, terdiri atas lima studi primer dan dua tinjauan sistematis/meta-analisis; lima studi primer dinilai menggunakan MMAT. Gonore pada perempuan sering asimtomatik atau menyerupai keputihan biasa, tetapi dapat menyebabkan servisitis mukopurulen melalui inflamasi serviks dan rekrutmen neutrofil. Infeksi asenden dapat berkembang menjadi endometritis, salpingitis, PID, dan abses tubo-ovarium, dengan kerusakan silia, fibrosis, dan adhesi tuba yang berkontribusi terhadap infertilitas faktor tuba serta kehamilan ektopik. Bukti menunjukkan hubungan epidemiologis antara infeksi GC/CT dan infertilitas perempuan, tetapi publikasi terpilih tidak membuktikan efek independen gonore terhadap luaran IVF maupun peningkatan peluang kehamilan setelah skrining dan terapi. Oleh karena itu, IVF diposisikan sebagai kesenjangan bukti yang memerlukan penelitian prospektif. POC-NAAT dapat mengurangi pengobatan berlebih, sedangkan pengambilan sampel harus disesuaikan dengan manifestasi klinis dan praktik seksual. Integrasi obstetri-ginekologi dan mikrobiologi klinik penting untuk diagnosis akurat, penatagunaan antimikroba, dan pencegahan komplikasi reproduksi.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##
Diterbitkan
2026-10-22
Viewer: 30 times
PDF downloaded: 19 times