Laporan Kasus Berbasis Bukti: Depresi pada Epilepsi
Abstrak
Pendahuluan: Depresi terjadi pada 22,9% penderita epilepsy, jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Kondisi ini melibatkan mekanisme neurobiologis kompleks, termasuk neuroinflamasi, disfungsi GABA–glutamat, dan disregulasi sumbu HPA, serta diperberat oleh stigma psikososial.
Presentasi Kasus: Seorang perempuan 19 tahun dengan epilepsi sejak usia 6 tahun telah mendapat terapi fenitoin selama 12 tahun. Pasien mengalami depresi akibat perundungan kronis dan stigma sosial, dengan gejala sedih menetap, anhedonia, perilaku melukai diri, dan kemudian muncul gejala psikotik. Terapi awal yang diberikan berupa sertralin dan aripiprazol. Interaksi obat sertralin dan fenitoin menyebabkan ataksia dan gangguan keseimbangan sehingga terapi antiepilepsi diganti menjadi levetiracetam, karbamazepin, dan klobazam.
Hasil: Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk depresi pada epilepsi (tingkat rekomendasi B). Venlafaxin dilaporkan menurunkan skor Hamilton Depression Rating Scale (HAMD) rata-rata 7,59 poin dibanding tanpa terapi (RR 3,25; IK95% 1,19–8,90; NNT = 4). Paroxetin dibanding doxepin menunjukkan RR 1,16 (IK95% 0,88–1,52; NNT = 9), sementara amitriptilin dibanding nomifensin menunjukkan RR 0,55 (IK95% 0,28–1,06; NNT = 3). SSRI (sertralin atau citalopram) mampu menurunkan skor Beck Depression Inventory (BDI) rata-rata 4,90 poin dibanding terapi kognitif perilaku.
Kesimpulan: SSRI efektif menurunkan gejala depresi pada penderita epilepsi, dengan venlafaxin sebagai alternatif pada pasien yang tidak responsif. Namun, potensi interaksi obat, khususnya inhibisi enzim CYP450 yang dapat meningkatkan kadar obat antiepilepsi, perlu diperhatikan melalui penyesuaian dosis dan pemantauan ketat.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Viewer: 518 times
PDF (English) downloaded: 356 times





